Sugimin, S.Kar.,M.Sn

Just another Berpacu dlm Kreatifitas dan Prestasi site

Comments off

macapat

Comments off

MACAPAT

(Perkembangan dan Kontribusinya dalam Karawitan Jawa)

Pengantar

Sastra Jawa merupakan salah satu bagian dari sastra dunia.  Seperti halnya sastra dunia lainnya, sastra Jawa juga mengenal dua bentuk sastra, yaitu prosa dan puisi.  Sastra Jawa yang berbentuk prosa dapat dilihat pada teks-teks sastra kuno seperti Ramayana yang merupakan saduran dari cerita Ramayana India, dan sastra-sastra parwa, seperti: Adiparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa dan Bismaparwa. yang merupakan saduran dari cerita Mahabharata berdasarkan bagian-bagiannya.[1] Sementara  jenis puisi yang kita kenal dalam tradisi sastra Jawa  di antaranya adalah Kakawin, kidung, wangsalan, parikan, geguritan, dan  macapat.

Sebagai karya sastra Jawa, bentuk macapat mempunyai  aturan yang sangat mengikat yang disebut dengan guru wilangan, guru lagu dan guru gatraGuru wilangan adalah jumlah suku kata yang terdapat pada setiap baris macapat.  Guru lagu adalah   huruf hidup atau vocal  (a, i, o, u dan é/è)   yang terletak pada suku kata terakhir pada setiap akhir baris. Guru gatra adalah jumlah  baris dalam setiap jenis  macapat. Baris-baris dalam macapat tersebut kemudian dikenal  dengan istilah gatra.[2] Masing–masing  jenis   macapat mempunyai guru wilangan, guru lagu, dan jumlah baris yang berbeda-beda. Ketiga unsur tersebut yang dapat membedakan antara jenis  macapat yang satu dengan jenis  macapat  lainnya.

Tembang macapat yang merupakan salah satu jenis karawitan vokal Jawa telah mengalami perkembangan garap musikal.  Tembang macapat yang semula lebih berfungsi sebagai waosan, kini oleh para pengrawit tidak hanya dipahami sebagai waosan saja.[3] Tembang macapat telah dikembangkan dan menjelma menjadi berbagai ragam wujud garap musikal, seperti menjadi gending bentuk ketawang, ladrang, palaran, bawa gending dan gending laras madya.  Ketika tembang macapat diperlakukan sebagai sekar waosan, maka ia secara ketat terikat oleh aturan-aturan yang ada.   Selain  terikat oleh aturan guru wilangan, aturan guru lagu, guru gatra, juga terikat teknik penyajiannya.  Oleh sebab itu, terdapat konsep yang beredar dalam masyarakat Jawa tentang penyajian macapat, yakni  lagu winengku ing sastra. Konsep penyajian seperti itu memiliki pengertian, bahwa dalam penyajian tembang macapat, kejelasan makna syair lagu lebih diutamakan daripada keindahan lagunya.  Kata lain bahwa dalam konteks waosan, tembang macapat disajikan dengan  lagu yang sangat sederhana, tidak banyak memasukkan luk, wilêt, dan grêgêl. Pada saat tembang macapat   disajikan bukan dalam konteks waosan, terdapat kelonggaran-kelonggaran, terutama dalam garap musikalnya.

Perkembangan garap musikal  tembang macapat ke dalam berbagai aneka garap musikal, tidak terlepas dari faktor kreativitas para seniman. Begitu pula halnya, bahwa ide-ide kreatif dari para seniman tidak lepas dari suatu  kebutuhan, baik kebutuhan estetik maupun kebutuhan yang terkait dengan jenis kesenian lainnya.   Oleh sebab itu, diduga bahwa perkembangan musikal yang terjadi pada tembang macapat, selain karena tuntutan estetis, juga  karena  adanya perubahan fungsi sajian musik (karawitan).  Hal ini  sekaligus menunjukkan ketika tuntutan masyarakat terhadap kegunaan karya seni berkembang,  memungkinkan  para  seniman  untuk  melakukan  reinterpretasi terhadap jenis-jenis karya seni yang sudah ada.   Tulisan ini akan membahas berbagai aspek yang berhubungan dengan macapat dan kontribusinya terhadap kehidupan karawitan jawa.

Pengertian Tembang Macapat Secara Umum

Pengertian  macapat  banyak ditafsirkan secara berbeda.  Ranggawarsita menyebut, bahwa  macapat diambil dari kata maca-pat lagu, yaitu têmbang wêwacan kang kaping papat (tembang bacaan yang keempat), juga disebut dengan tembang cilik. Disebutkan pula, bahwa pada mulanya tembang macapat dicipta oleh  Sunan Giri, kemudian disebarkan oleh Sunan Bonang dan semua para wali.  Tembang ini mempunyai aturan-aturan seperti ditentukan jumlah pada lingsa (jumlah baris}, diatur jatuhnya dong ding (vocal atau huruf hidup pada akhir baris), serta jumlah suku kata yang tidak sama pada setiap barisnya.[4] Aturan-aturan yang disebut di depan kemudian dikenal dengan istilah guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan.

Terdapat pemahaman yang beredar di masyarakat, bahwa macapat ditafsirkan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat).  Pemahaman ini merujuk pada cara membaca  dalam melagukan tembang  macapat,  yakni letak pernafasan ditempatkan pada 4 (empat) suku kata pertama pada setiap baris tembang  macapat.   Menururt Karsono H. Saputra,  interpretasi seperti ini memang tidak seluruhnya salah, sebab kebanyakan ―meski tidak selalu― pêdhotan pertama terletak setelah suku kata keempat tiap larik dalam bait-bait macapat[5].  Pengertian  ini didasarkan pada aturan pernafasan yang digunakan pada saat melagukan tembang  macapat.  Aturan pernafasan yang oleh sebagian masyarakat juga disebut dengan istilah pedhotan ini tergantung pemahaman dari masing-masing individu dalam menafsirkannya.[6]

K.R.T. Madukusumo menafsirkan pengertian  macapat berbeda dengan yang telah dipaparkan di depan.  Ia menduga  macapat berasal dari kata panca dan pat.  Kata panca yang berarti lima diambil dari sandangan yang terdapat pada huruf Jawa yang bejumlah lima, yaitu: wulu (i), suku (u), taling (é), taling tarung (o), dan pêpêt (ê).  Sementara kata pat atau papat yang berarti empat didasarkan atas jumlah macam sandangan yang dipergunakan pada akhir baris atau kalimat (pada lingsa), yaitu huruf:  i,u, ê, dan o/a.[7] Dalam hal ini sandangan taling tarung (huruf o) disejajarkan dengan yang tidak menggunakan sandangan atau lagnyana (huruf a) .Pengertian ini  merujuk  pada salah satu aturan yang mengikat pada tembang  macapat, yaitu yang  berkaitan dengan guru lagu.  Namun demikian  penggunaan  kata pat yang merujuk empat sandangan yang digunakan pada akhir baris atau akhir kalimat (pada lingsa) menurut penulis kurang tepat.  Sepengetahuan penulis, suku kata pada akhir baris yang menggunakan sandangan taling tarung (huruf o) juga digunakan dalam tembang macapat, yaitu terdapat pada tembang macapat Mijil pada akhir gatra kedua, Megatruh pada akhir gatra kelima, dan Gambuh pada akhir gatra kelima.   Dengan demikian huruf o dan huruf a sebagai guru lagu pada setiap akhir baris  macapat tidak dapat disejajarkan karena mempunyai kedudukan yang berbeda.

Berbagai penafsiran terhadap pengertian  macapat seperti yang dipaparkan di atas dapat diketahui beberapa unsur yang saling terkait dalam  macapat.  Unsur-unsur itu meliputi  bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Jawa[8]; aturan persajakan yang meliputi guru wilangan, guru lagu dan guru gatra; tembang; dan aturan pernafasan dalam melagukan tembang.

Memperhatikan berbagai unsur yang terdapat dalam  macapat seperti disebut di depan, maka dapat ditarik pengertian  bahwa tembang macapat adalah  bentuk puisi Jawa yang   diikat oleh aturan persajakan berupa guru wilangan, guru lagu, dan guru gatra, yang  cara membacanya menggunakan tembang dengan memperhatikan aturan pernafasan.

Macapat Sebagai Karya Sastra

Bentuk macapat merupakan sebuah  karya sastra seperti layaknya karya sastra  puisi, prosa, pantun, dan sebagainya.    Karya sastra Jawa yang ditulis dalam bentuk macapat dapat dilihat pada Sêrat dan Babad.   Karya sastra Jawa   tersebut dapat  dibaca oleh siapa saja  tanpa mempertimbangkan  keahlian yang terkait dengan seni lain, yang terpenting adalah dapat memahami isi atau pesan-pesan yang terkandung di dalam teks macapat.  Dalam konteks yang demikian, maka macapat dapat diartikan sebagai bentuk puisi Jawa yang ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa, diikat oleh aturan persajakan yang meliputi guru wilangan, guru lagu dan guru gatra

Penulisan teks macapat harus memenuhi tiga unsur pokok.  Tiga unsur itu  meliputi jumlah baris pada tiap-tiap jenis macapat (guru gatra), jumlah suku kata dalam setiap satu baris (guru wilangan), dan huruf hidup (vocal) yang terletak pada setiap akhir baris (guru lagu).  Ketiga  faktor inilah yang membentuk kerangka dasar atau yang menjadi ciri struktur dari  masing-masing jenis macapat.  Dengan melihat stuktur tersebut, maka kita dapat membedakan antara jenis macapat yang satu dengan jenis macapat lainya.  Dengan demikian apabila salah satu dari unsur ini tidak diikuti secara ketat dalam pembuatan teks macapat, maka teks  tersebut sulit untuk dapat dikategorikan sebagai jenis macapat tertentu.

Bentuk macapat sebagai karya sastra Jawa telah  menduduki tempat utama dalam babakan sastra Jawa baru, terutama pada zaman Keraton Surakarta awal. Pada masa pemerintahan Paku Buana IV banyak karya sastra Jawa terkenal yang ditulis dengan menggunakan bentuk macapat, di antaranya adalah sêrat.  Paku Buana IV   menulis karya sastra yang sangat terkenal, yaitu Sêrat Wulangrèh. Selain menulis Sêrat Wulang Rèh, ia juga menulis karya jenis piwulang lainnya, seperti Sêrat Wulang Putri, Wulang Tatakrama, Sêrat Wulang Sunu, Sêrat Wulang Dalêm, dan Wulang Brata Sunu.  Kemudian pada masa pemerintahan Paku Buana V, Sêrat Cênthini yang berisi berbagai  kawruh dan ngèlmu Jawa juga ditulis dalam bentuk macapat.[9]

Karya sastra Jawa lain yang juga ditulis dengan menggunakan bentuk macapat adalah babad.   Babad merupakan salah satu genre di antara sekian banyak karya sastra Jawa yang mengkisahkan cerita    sejarah.  Pengungkapan babad dalam bentuk narasi, penuturannya disampaikan dengan bahasa Jawa Baru berbentuk tembang atau gancaran dengan ragam bahasa krama atau ngoko. Kitab babad yang berbentuk tembang dirakit dalam tembang macapat.[10] Babad yang ditulis dengan bentuk macapat antara lain  Babad Tanah Jawi, Babad Mataram, Babad Demak, dan sebagainya.

Kandungan isi dari dalam teks-teks macapat yang  terdapat pada serat dan babad sangat bervariasi, antara lain tentang wulang wuruk ―pendidikan kearah hal-hal yang baik―, peristiwa-peristiwa sejarah, cerita-cerita tentang tokoh tertentu.  Bahkan Serat Centini yang juga ditulis dalam bentuk macapat  memuat berbagai aspek kehidupan  sosial, politi, ekonomi, budaya, dan sebagainya.   Dalam konteks ini bentuk macapat merupakan sebuah karya sastra Jawa yang berfungsi sebagai sumber informasi tertulis.

Ciri-ciri Struktural Tembang Macapat

Terdapat 11 (sebelas) jenis macapat yang dikenal oleh masyarakat  Jawa, yang masing-masing jenis memiliki ciri struktural yang berbeda.    Kesebelas jenis macapat yang dimakasud yaitu: Sinom, Dhandhanggula, Asmaradana, Pangkur, Pucung,  Kinanthi, Mijil, Durma, Maskumambang, Mêgatruh, dan Gambuh.    Ciri-ciri struktural yang bisa diamati secara fisik dari masing-masing jenis macapat dapat dilihat pada jumlah baris (guru gatra), jumlah suku kata dalam setiap satu baris (guru wilangan), dan hurup hidup atau vocal (juga sering disebut dong ding) pada setiap akhir baris (guru lagu).  Di bawah ini dapat dilihat ciri-ciri struktural dari masing jenis tembang macapat.

No. Jenis Macapat Jumlah Baris Guru Wilangan dan Guru Lagu
1 Sinom 9 8 a,  8 i,  8 a,  8 i,  7 i,  8 u,   7 a,

8 i, 8 a.

2 Dhandhanggula 10 10 i,  10 a,  8 é,  7 u,  9 i,  7 a,  6 u,

8 a,  12 i  , 7 a.

3 Asmaradana 7 8i,  8 a,  8 é,  8 a,  7 a,  8 u,  8 a.
4 Pangkur 7 8 a,  11 i,  8 u,  7 a,  12 u,  8 a,  8 i.
5 Pucung 4 12 u,  6 a,  8 i,  12 a.
6 Kinanthi 6 8 u,  8 i,  8 a,  8 i,  8 a,  8 i.
7 Mijil 6 10 i,  10 o,  11 é/è,  10 i,  6 i,  6 u.
8 Durma 7 12 a,  7 i,  6 a,  7 a,  8 i,  5 a,  7 i.
9 Maskumambang 4 12 i,  6 a,  8 i,  8 a.
10 Megatruh 5 12 u,  8 i,  8 u,  8 i,  8 o.
11 Gambuh 5 7 u,  10 u,  12 i,  8 u,  8 o.

Selain guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu, dalam macapat juga dikenal istilah pupuh dan pada.  Pengertian pupuh adalah bagian atau bab dari suatu wacana.  Satu pupuh wacana macapat hanya  digunakan  satu pola persajakan atau metrum. Sementara pada adalah sama artinya dengan bait dalam puisi.  Sebagai contoh, dalam Sêrat Wédhatama terdiri dari lima pupuh, yaitu Pupuh I Pangkur yang terdiri dari 14 pada; Pupuh II Sinom terdiri dari 18 pada; Pupuh III Pucung terdiri dari 15 pada; Pupuh IV Gambuh terdiri dari 35 pada; dan Pupuh V Kinanthi terdiri dari 18 pada.

Bahasa dalam Macapat

Bahasa adalah unsur terpenting dalam karya sastra.  Dengan bahasa  kita dapat menuangkan gagasan pada sebuah tulisan.  Pesan yang terkandung dalam tulisan tersebut akan cepat difahami oleh pembacanya apabila bahasa yang digunakan masih satu lingkup budaya dengan pembacanya.  Bahasa yang digunakan dalam macapat yang berkembang di Jawa adalah  bahasa Jawa seperti bahasa yang dipergunakan oleh orang Jawa pada masa kini, baik bahasa ngoko, krama, krama inggil, dan atau gabungan dari ketiganya.

Macapat sebagai karya sastra, selain menyampaikan pesan yang tekandung dalam isi teks, juga memperhatikan keindahan sastranya.  Oleh sebab itu dalam macapat seringkali dijumpai  penggunaan bahasa Jawa kuno, susunan kata atau kalimat yang menyimpang dari kebiasaannya, serta terdapat kata-kata yang dipenggal atau tidak utuh.  Hal ini selain keindahan bahasa atau kesan estetik yang ditonjolkan, juga sangat terkait dengan tuntutan aturan guru lagu dan guru wilangan yang harus diikuti secara ketat.

Sehubungan dengan adanya aturan guru wilangan dan guru lagu yang mengikat pada pembuatan teks macapat, maka penulisan teks macapat harus   sesuai dengan kedua tuntutan tersebut.  Untuk memenuhi tuntutan guru wilangan (sesuai dengan jumlah suku kata yang diperlukan) dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:  (1) Pemilihan kata-kata yang searti (sinonim), seperti kata  sanyataning dapat memilih kata sayêkti atau yêkti yang  semuanya berarti kenyataan.  (2) Menambah suku kata pada kata-kata tertentu, seperti kata  ngagêm menjadi angagêm, jroning menjadi sajroning.  (3) Memenggal atau menghilangkan suku kata pada kata-kata tertentu, seperti kata datan menjadi tan, wêruh menjadi wruh. (4) Penggabungan dua kata  atau lebih menjadi satu kata atau kata yang lebih pendek, seperti: prapta ing menjadi praptèng, sura ing alaga menjadi suréng laga. Pemilihan kata-kata yang dilakukan dengan cara demikian, disamping untuk pemilihan makna yang tepat, juga mempertimbangkan jumlah suku kata  (tuntutan guru wilangan)  yang sesuai dengan kebutuhan.  Sementara penulisan teks macapat yang disesuaikan dengan tuntutan guru lagu dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: (1) Menggunakan kata yang searti (sinonim) namun  guru lagunya berbeda, seperti kata mati dapat memilih kata pêjah, lampus, dan layon yang semuanya  berarti meninggal dunia.  (2)   Mengubah suku kata pada akhir baris tanpa merubah makna, seperti kata Mataram menjadi Mêtawis atau Mêtarum,  punika menjadi puniki,atau puniku. (3) Baliswara atau pembalikan susunan kata atau kalimat, seperti:, sampun malumpat menjadi malumpat sampun, sami digdaya menjadi digdaya sami. Pemilihan kata-kata yang dilakukan dengan cara demikian, di samping  untuk pemilihan makna yang tepat, juga mempertimbangkan huruf hidup atau vokal pada setiap akhir baris (tuntutan guru lagu)  yang sesuai dengan kebutuhan.

Macapat Sebagai Sekar Waosan

Membaca karya sastra Jawa yang diambil dari sêrat dan babad untuk suatu hajadan tertentu  sering dilakukan oleh sebagian masyarakat jawa.  Namun demikian teks-teks sêrat dan babad yang berbentuk macapat tersebut tidak sekedar dibaca secara biasa, tetapi dibaca dengan menggunakan lagu atau ditembangkan.   Teks-teks yang berbentuk macapat   yang dibaca dengan cara ditembangkan  inilah yang  kemudian disebut dengan sêkar waosan.    Dengan kata lain,  sêkar waosan digunakan untuk menyebut aktivitas membaca sêrat dan babad dengan cara dilagukan.  Bilamana lagu yang digunakan adalah macapat, maka disebut sêkar waosan macapat.  Ketika tembang macapat berfungsi sebagai sêkar waosan, selain terikat oleh aturan persajakan yang disebut guru lagu dan guru wilangan, dalam penyajiannya juga terikat oleh konsep yang disebut lagu winengku ing sastra. Konsep penyajian seperti itu memiliki pengertian, bahwa dalam penyajian tembang macapat, kejelasan makna syair lagu lebih diutamakan daripada keindahan lagunya.  Oleh sebab itu  dalam konteks waosan, tembang macapat disajikan dengan  lagu yang sangat sederhana, tidak banyak memasukkan luk, wilêt, dan grêgêl.

Hingga awal tahun 1970-an, macapat yang berfungsi sebagai sêkar waosan banyak disajikan untuk berbagai keperluan hajadan oleh masyarakat Jawa pada acara-acara malam tirakatan atau lèk-lèkan seperti selapanan bayi, khitanan, midodarèn (malam sebelum acara pernikahan), dan sebagainya.[11] Pada saat ini komunitas seperti ini sudah sangat berkurang, bahkan sangat sulit ditemukan.  Namun demikian, walaupun dalam konteks yang berbeda, pembacaan tembang macapat masih dijumpai pada instansi-instansi tertentu yang secara rutin menggelar acara macapatan. Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta secara rutin menggelar acara macapatan setiap bulan sekali yang diselenggarakan setiap  tanggal tiga belas.  Acara ini lebih menekankan pada telaah sastranya.  Selain itu, penyajian tembang macapat sebagai sêkar waosan juga masih dapat kita dimikmati melalui acara siaran telivisi pada stasiun Jogya TV yang mengadakan siaran secara rutin seminggu sekali.

Teknik Pernafasan

Ketika  tembang macapat diperlakukan sebagai sêkar waosan, selain  terikat oleh aturan persajakan yang harus diikuti secara ketat,  juga terikat  dengan teknik penyajiannya.  Teknik penyajian tersebut di antaranya adalah  teknik pernafasan. Teknik pernafasan dalam tembang macapat adalah cara menentukan tempat  berhenti untuk pengambilan nafas sejenak (unjal nafas) dari seorang penyaji tembang pada saat melagukan tembang macapat. Pengambilan nafas tersebut dapat dilakukan di  tengah-tengah baris maupun pada setiap akhir baris tembang macapat. Gunawan Sri Hastjarja menyebutkan, bahwa  pengambilan nafas di tengah-tengah baris tembang macapat  hanya boleh dilakukan apabila dalam satu baris tembang macapat tersebut mempunyai jumlah suku kata  lebih dari 8 (delapan) suku kata.  Pengambilan nafas pertama dilakuan setelah 4 (empat) suku kata pertama, kemudian pengambilan nafas kedua dilakukan setelah selesainya kalimat dalam satu baris.  Untuk baris-baris yang terdiri dari 8 (delapan) suku kata ke bawah hanya dilakukan satu kali pernafasan pada setiap akhir baris.  Ditegaskan pula bahwa 4 (empat) suku kata pertama yang digunakan untuk pernafasan tersebut harus merupakan kata yang utuh, dalam arti sudah mempunyai makna.[12] Aturan tersebut hingga saat ini masih digunakan dalam pengajaran tembang pada lembaga pendidikan seni formal seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Sekolah Menengah Kejuruan bidang Kesenian (SMK 8 dulu SMKI) Surakarta.[13] Contoh teknik pengambilan nafas  seperti yang dimaksud di depan dapat dilihat seperti berikut.  Tanda garis miring (/) adalah tempat  harus dilakukan pernafasan.

Mingkar-mingkuring angkara /

akarana  / karênan mardi siwi /

sinawung rêsmining kidung /

sinuba sinukarta /

mrih krêtarta /  pakartining ngèmu luhur/

kang tumrap nèng tanah Jawa/

agama agêming aji /

Kutipan  teks macapat Pangkur di atas dapat diketahui, bahwa baris yang   jumlah suku katanya lebih dari 8 (delapan) suku kata hanya terdapat pada baris kedua, yaitu akarana   karênan mardi siwi (terdiri dari 11 suku kata), dan baris kelima, yaitu mrih krêtarta   pakartining ngèmu luhur (terdiri dari 12 suku kata). Dengan demikian, apabila mengacu pada pengertian teknik pernafasan yang dikemukakan oleh  Gunawan Sri Hascaryo, maka baris-baris yang boleh menggunakan dua pernafasan hanya   pada  baris kedua dan baris kelima.

Pengertian teknik pernafasan seperti yang disebutkan di depan bukanlah satu-satunya aturan yang mengikat.   Terdapat penafsiran yang lain tentang aturan pernafasan dalam tembang macapat.  Adanya pemahaman bahwa macapat ditafsirkan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat) adalah bentuk lain dari teknik pernafasan yang telah disebut di depan.  Pemahaman ini merujuk pada teknik pernafasan dalam melagukan tembang macapat,  yakni pernafasan dilakukan  setiap 4 (empat) suku kata pertama pada  setiap baris tembang macapat.  Apabila pemahaman ini dilaksanakan secara konsiten, maka teknik pernafasannya adalah seperti contoh di bawah ini. Tanda garis miring (/) adalah tempat dilakukan pernafasan.

Kang sêkar pang / kur winarna /

lêlabuhan / kang kanggo wong ngaurip /

ala lan bê / cik puniku /

prayoga  ka  / wruhana /

adat waton / puniku dipun kadulu /

miwah ta ing / tata krama /

dèn kaèsthi / siyang ratri /

Teknik pernafasan yang dipaksakan setiap 4 suku kata seperti pada contoh  teks macapat Pangkur di atas mengakibatkan ada tiga  kata yang terpenggal di tengah.  Adapun kata-kata yang terpenggal tersebut yaitu: kata pangkur yang terdapat pada baris pertama dipenggal menjadi pang dan kur;  kata bêcik yang terdapat pada baris ketiga dipenggal menjadi dan  cik, serta  kata kawruhana yang terdapat pada baris keempat dipenggal menjai ka dan wruhana.  Dengan adanya pemenggalan kata yang demikian,  selain makna ketiga kata tersebut menjadi kurang jelas,  juga  mengakibatkan keindahan lagu secara keseluruhan menjadi berkurang.  Pemenggalan kata semakin bertambah banyak  manakala pengertian macapat ditafsirkan sebagai maca papat-papat secara ekstrim, yaitu pernafasan dilakukan pada empat suku kata pertama, empat suku kata di tengah, dan empat suku kata dari belakang.  Namun demikian, contoh kasus pada teks macapat Dhandhanggula seperti di bawah ini tidak akan mengganggu makna kata walaupun  penggunaan teknik pernafasannya  dilakukan setiap 4 suku kata.

Yogyanira  /  kang para  prajurit /

lamun bisa  / samya anulada /

duk ing nguni   / caritané /

andêlira  / sang Prabu /

Sasrabahu  / ing Maèspati /

aran Patih  / Suwanda /

lêlabuhan  / ipun /

kang ginêlung  / tri prakara /

guna kaya  / puruné kang / dèn antêpi /

nuhoni / trah  utama /

Teks macapat Dhandhanggula seperti  di atas tidak ada permasalahan dengan makna kata, walaupun penyajiannya dilakukan dengan menggunakan teknik pernafasan pada setiap empat suku kata pertama atau empat suku kata dari belakang.  Secara keseluruhan tidak terdapat kata yang terpenggal.  Teks-teks  macapat yang mempunyai susunan kata-kata seperti teks macapat Dhandhanggula di atas jumlahnya memang tidak  banyak.  Diduga teks-teks macapat  dengan susunan kata-kata seperti pada contoh tersebut di atas   dapat dijadikan sebagai acuan bahwa macapat ditafsirkan sebagai maca papat-papat atau dibaca dengan menggunakan pernafasan pada  empat suku kata pertama atau empat suku kata dari belakang.  Namun demikian perlu diketahui bahwa tidak semua teks macapat  mempunyai kalimat dengan susunan kata-kata seperti pada contoh teks Dhandhanggula di atas.  Oleh sebab itu diperlukan kecermatan ketika akan melakukan pernafasan dalam menyajikan tembang macapat.

Nyi Bei Mardusari, seorang empu pesindhèn mempunyai tafsir sendiri tentang  teknik pernafasan  untuk baris-baris tembang macapat yang mempunyai jumlah suku kata lebih dari 8 (delapan) suku kata.  Hal ini dapat ditunjukkan pada penyajian tembang yang telah direkam pada kaset rekaman komersial produksi Lokananta Recording dengan nomor seri ACD – 082.    Pada baris-baris tembang macapat yang mempunyai jumlah suku kata lebih dari 8 (delapan) suku kata, beliau tidak seluruhnya menggunakan teknik pernafasan pada empat suku kata pertama, namun malah lebih banyak menggunakan satu pernafasan dengan jeda sesaat sebelum dua suku kata terakhir untuk memberi tekanan rasa sèlèh.  Sementara untuk baris-baris tembang macapat yang terdiri dari 8 (delapan) suku kata ke bawah, beliau menggunakan satu pernafasan seperti yang di utarakan oleh Gunawan Sri Hastjarjo di depan.

Padmosoekotjo  mempunyai penafsiran yang berbeda tentang pêdhotan (istilah lain yang digunakan untuk menyebut teknik pernafasan) dalam macapat.   Ia mempunyai pemahaman, bahwa ada dua macam pêdhotan dalam menyajikan tembang macapat, yaitu pêdhotan kêndho dan pêdhotan kêncêng.  Pêdhotan kêndho adalah  pengambilan nafas sejenak yang dilakukan pada akhir kata (wekasaning têmbung), sedangkan pêdhotan kêncêng adalah  pengambilan nafas sejenak yang dilakukan  pada pertengahan kata.  Juga ditegaskan, bahwa pêdhotan kêndho adalah pêdhotan yang baik dalam menyajikan tembang. Dengan menggunakan pêdhotan kêndho, selain enak dibaca, juga  makna kalimatnya mudah difahami[14].  Untuk melakukan pêdhotan kêndho atau pêdhotan yang baik, menurut Padmosoekotjo dapat dilakukan dengan cara memilih alternatif   pêdhotan atau pernafasan  seperti di bawah ini.

a)  Baris-baris tembang macapat yang terdiri dari 5 suku kata, maka pêdhotan dilakukan dengan cara  3 ― 2  atau  2 ― 3.

b)  Baris-baris tembang macapat yang terdiri dari 6 suku kata, maka pêdhotan dilakukan dengan cara  4 ― 2  atau  3 ― 3  atau  2 ― 4.

c)  Baris-baris tembang macapat yang terdiri dari 7 suku kata, maka pêdhotan dilakukan dengan cara  4 ― 3  atau  3 ― 4  atau  2 ― 3  ― 2.

d) Baris-baris tembang macapat yang terdiri dari 8 suku kata, maka pêdhotan dilakukan dengan cara  4 ― 4  atau  3 ― 3 ― 2  atau  3 ― 2 ― 3.

e)  Baris-baris tembang macapat yang terdiri dari 9 suku kata, maka pêdhotan dilakukan dengan cara  4 suku kata lebih dahulu, kemudian sisanya  dilakukan dengan cara    3 ― 2  atau   2 ― 3.

f)   Baris-baris tembang macapat yang terdiri dari 10 suku kata ke atas, maka dilakukan dengan cara  4 suku kata lebih dahulu, kemudian sisanya dilakukan seperti pada  aturan baris yang terdiri dari 6 suku kata, 7 suku kata dan 8 suku kata.

Penafsiran teknik pernafasan atau pêdotan yang disampaikan oleh Padmosoekoco seperti dipaparkan di atas merupakan suatu usaha untuk mengatasi agar pernafasan atau pêdotan yang dilakukan tidak sampai memenggal kata.  Bagi para penyaji tembang dapat memilih berbagai alternatif yang disediakan dalam melakukan pernafasan, sehingga tidak akan terjadi pemenggalan kata yang bisa mengganggu makna kata itu sendiri.  Namun demikian teknik pernafasan semacam ini    sajian tembang menjadi terputus-putus, sehingga rasa tembang  kemungkinan tidak sesuai  dengan karakter dari tembang macapat yang disajikan.

Teknik-teknik pernafasan yang telah dipaparkan di depan merupakan suatu kekayaan garap di bidang olah vokal, utamanya garap di bidang tembang macapat.  Dengan demikian, apabila berbagai teknik pernafasan tersebut dipandang dari konteks garap di dalam musik,  maka alternatif garap tersebut tidak bisa dinilai dengan kriteria salah atau benar, serta baik atau buruk, namun yang dinilai adalah pénak dan ora pénak (enak dan tidak enak) dalam hal rasa. Penafsiran tentang tembang macapat yang harus dibaca empat-empat tampaknya banyak mengalami permasalahan dengan  pemenggalan kata.  Dengan adanya pemenggalan kata, maka makna yang terkandung dalam kata atau kalimat menjadi kurang jelas, sehingga dapat mengurangi rasa enak secara keseluruhan.  Hal ini penting untuk disadari mengingat dalam tembang macapat tidak hanya keindahan lagu yang dipentingkan.  Antara keindahan lagu  dan  syair lagu yang terkandung dalam tembang macapat harus menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga  dapat dirasakan dan dimengerti oleh pendengarnya.   Terdapat dua hal pokok yang harus diperhatikan oleh penyaji tembang ketika akan melakukan pernafasan.  Pertama,  menentukan rasa  sèlèh pada setiap baris tembang macapat  yang akan dijadikan tempat pengambilan nafas. Kedua, dalam melakukan pernafasan  harus mempertimbangkan keutuhan kata supaya tidak terjadi pemenggalan kata.   Dengan memenuhi kedua  kriteria tersebut dengan ditunjang  suara serta pemahaman terhadap karakrakter tembang yang bagus, maka selain enak didengar, juga kejelasan makna  yang terkandung dalam teks tembang macapat dapat diterima oleh pendenganya dengan baik.

Céngkok-Céngkok Tembang Macapat

Pengertian céngkok dalam Kamus Bahasa Jawa yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta adalah lak-luking swara ing lêlagon têmbang. Padmosoekotjo mengartikan céngkok hampir sama dengan yang disebut di depan, yaitu lak luking swara kang dianggo nglagokaké tembang.[15] Céngkok dalam pengertian ini adalah susunan nada-nada yang membentuk pola lagu dalam tembang.   Sumarsam   mengartikan céngkok sebagai gaya lagu atau pola lagu.[16] Sementara Rahayu Supanggah mengidentifikasikan céngkok menjadi tiga pengertian, yaitu céngkok dalam arti gaya, céngkok dalam arti ukuran panjang kompososi yang sama dengan satu gong, dan yang terakhir adalah céngkok dalam arti vukabuler garap.[17]

Pengertian céngkok dari berbagai pendapat   seperti yang disebutkan di depan dapat disimpulkan,  bahwa  céngkok dalam tembang macapat adalah pola lagu yang ditata berdasarkan gaya atau cirikhas dari perorangan, kelompok, atau kawasan (budaya) tertentu sehingga membentuk  satu tembang macapat dengan kesan rasa tertentu. Perbedaan pola lagu yang diakibatkan adanya gaya-gaya tertentu inilah yang mengakibatkan satu jenis tembang macapat berkembang menjadi bermacam-macam céngkok tembang macapat yang baru.  Oleh sebab itu pengertian céngkok yang dimaksud dalam hal tembang  macapat dalam tulisan ini adalah céngkok dalam arti gaya atau gagrag.

Sri Hastjarjo dalam buku  Macapat Jilid I, II dan III menghimpun berbagai céngkok tembang macapat.   Terdapat   11 (sebelas) jenis tembang macapat, dimana setiap jenis tembang macapat paling sedikit mempunyai 9 (sembilan) céngkok atau gagrag tembang macapat (terdapat pada tembang macapat Maskumambang dan Megatruh), sedangkan jenis tembang macapat yang paling banyak ragam céngkok-nya adalah tembang macapat Kinanthi, yaitu 24 (dua puluh empat) céngkok.  Dengan demikian dari 11 (sebelas) jenis tembang macapat yang ada,  kemudian berkembang menjadi 177 céngkok tembang macapat.[18] Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:  (1)Tembang macapat Dhandhanggula terdiri dari 23 céngkok. (2) Tembang macapat Sinom terdiri dari 20 céngkok. (3)Tembang macapat Kinanthi terdiri dari 24 céngkok. (4) Tembang macapat Pangkur terdiri dari 10 céngkok. (5) Tembang macapat Asmaradana terdiri dari 14 céngkok. (6) Tembang macapat Mijil terdiri dari 19 céngkok. (7) Tembang macapat Durma terdiri dari 14 céngkok. (8) Tembang macapat Pucung terdiri dari 15 céngkok.  (9) Tembang macapat Maskumambang terdiri dari 9 céngkok. (10) Tembang macapat Mêgatruh terdiri dari 9 céngkok, dan (11)  Tembang macapat Gambuh terdiri dari 16 céngkok

Perkembangan Garap  Macapat

Secara konseptual, perkembangan dapat dimaknakan terjadinya suatu perubahan terhadap sesuatu dari yang relatif sederhana menuju kepada yang relatif kompleks.  Perkembangan garap musikal  merupakan suatu bentuk perubahan dari berbagai aspek musikal  yang menyebabkan   munculnya berbagai alternatif garapan sajian musik (karawitan), sehingga yang semula hanya terdapat satu bentuk garapan musik yang masih sederhana, kemudian  berkembang menjadi   berbagai  variasi garapan musik  yang berbeda dengan garap-garap yang sudah ada sebelumnya.

Seiring dengan perkembangan garap pada gending-gending karawitan, terdapat beberapa céngkok tembang macapat yang dahulu berfungsi sebagai sêkar waosan, kemudian dikembangkan ke dalam berbagai bentuk garapan karawitan yang bertolak dari lagu tembang macapat itu sendiri.  Perubahannya begitu kompleks, yaitu  dari bentuk tembang macapat yang sederhana menjadi gending bentuk ketawang, ladrang, palaran, gending larasmadya,  dan bawa gending.  Perkembangan musikal yang terjadi dapat dipastikan akan berakibat terhadap terbukanya perkembangan garap instrumen dan vokal.

Terjadinya perkembangan garap musikal dalam sajian karawitan pasti terdapat faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya perubahan. Faktor pertama adalah  kreativitas dari para seniman dalam rangka untuk  memenuhi kebutuhan, baik tuntutan estetik maupun dorongan untuk menciptakan sesuatu yang baru.  Kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan suatu  gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya. Kreativitas dalam karawitan dapat dilakukan dengan cara reinterpretasi terhadap jenis-jenis karya seni yang sudah ada.  Berbagai bentuk gending yang disusun dan dikembangkan dari tembang macapat   adalah sebuah bukti terjadinya proses kreatif dari seniman yang  dilakukan dengan cara mereinterpretasi terhadap lagu   tembang  macapat. Faktor kedua, perkembangan garap misikal terjadi  karena pergeseran fungsi sajian musik (karawitan).  Tembang macapat yang semula berfungsi sebagai sêkar waosan, kemudian menjelma menjadi sebuah gending yang dalam penyajiannya menggunakan sarana perangkat gamelan sléndro dan pélog.  Gending-gending yang dibentuk dari tembang macapat ini kemudian digunakan untuk berbagai keperluan, seperti sebagai gending klenengan, gending beksan, gending wayang, dan gending kethoprak. Hal ini adalah bentuk perkembangan garap musikal yang sangat komplek yang diakibatkan oleh  pergeseran fungsi sajian.

Berbagai bentuk gending yang  dikembangkan dari tembang macapat  antara lain adalah sebagai berikut.

1.  Menjadi gending bentuk ketawang

Sebagian besar perkembangan garap musikal dari tembang macapat adalah dibentuk  menjadi gending bentuk ketawang. Secara umum istilah ketawang berarti suatu bentuk gending yang setiap satu gong terdiri dari dua kalimat lagu kenongan (kenong yang kedua bersama dengan gong).  Masyarakat karawitan jawa mengenal  dua bentuk ketawang. Pertama, ketawang yang menggunakan kempul yang selanjutnya diberi istilah Ketawang saja. Kedua, ketawang untuk gending-gending kethuk kalih ke atas tanpa menggunakan kempul yang selanjutnya diberi istilah Ketawang Gending.[19] Ketawang yang dimaksud dalam tulisan ini adalah ketawang seperti pengertian yang disebut pertama, yaitu ketawang yang menggunakan kempul.   Gending bentuk ketawang  yang  dibentuk dari tembang macapat selalu tedapat lagu sindhènan atau gerongan pokok yang berasal dari lagu tembang macapat  yang menjadi dasar pembentuknya.  Lagu sindhènan atau gerongan inilah yang menjadi ciri khas dari gending yang dimaksud.  Lagu sindhènan semacam ini dapat dilihat seperti pada Ketawang Sinom Parijatha, Ketawang Pangkur Dhudhakasmaran, dan sebagainya,  sedangkan yang dibentuk menjadi lagu gerongan (koor) dapat dilihat  pada Ketawang Mijil Wigaringtyas dan Ketawang Pucung.   Dalam tataran praktik di lapangan,   lagu sindhènan banyak menggunakan wilêtan, luk, dan grêgêl namun masih dalam bingkai alur lagu tembang induknya. Penggunaan wilêtan, luk, dan grêgêl dimaksudkan untuk menimbulkan kesan estetik sehingga  tidak lagi terkait dengan konsep lagu winêngku ing sastra. Pembentukan balungan gending pada lagu pokok   didasarkan pada alur lagu  dan nada-nada seleh dari tembang macapat.   Contoh cengkok- cengkok tembang macapat yang dibentuk menjadi gending bentuk ketawang di antaranya adalah sebagai berikut.

a)  Ketawang Kinanthi Sandhung dikembangkan dari cengkok tembang macapat Kinanthi Sandhung.

b)  Ketawang Sinom Parijatha dikembangkan dari cengkok tembang macapat Sinom Kalulut (Parijatha).

c)  Ketawang Subakastawa dikembangkan dari cengkok tembang macapat Kinanthi Sastradiwangsa.

d) Beberapa cengkok tembang macapat dikembangkan menjadi gending  bentuk ketawang yang namanya juga diambil dari  cengkok tembang macapat, tertentu seperti Ketawang Pangkur Dhudhakasmaran, Ketawang Mijil Wigaringtyas (Rencasih), dan sebagainya.

2.  Menjadi gending bentuk ladrang

Ladrang dalam karawitan Jawa adalah bentuk gending   yang   memiliki struktur gending  dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) Satu céngkok (gongan) terdidiri dari empat kenongan.  (2)  Satu kenongan terdiri dari dua gatraSèlèh gatra pertama pada setiap kenongan ditandai dengan tabuhan ricikan kêmpul (kecuali pada  kenongan pertama, tabuhan ricikan kêmpul dikosongkan), dan   (3) Sabetan balungan pertama dan ketiga pada setiap gatra ditandai dengan tabuhan ricikan kempyang, dan sabetan kedua  ditandai dengan tabuhan ricikan kêthuk.   Pengertian  ini berlaku untuk gending bentuk ladrang secara umum, baik ladrang yang disajikan dalam irama tanggung, irama dadi,  irama wilêt, maupun irama rangkêp.   Seperti halnya pada gending bentuk ketawang, pembentukan lagu sindhènan atau gerongan pokok dan balungan gending ladrang juga  mengacu pada alur lagu dan nada-nada seleh dari  tembang macapat.    Contoh cengkok- cengkok tembang macapat yang dibentuk menjadi gending bentuk ladrang di antaranya adalah sebagai nerikut.

a)  Ladrang Pangkur (Paripurna) dikembangkan dari cengkok tembang macapat Pangkur Paripurna.

b) Ladrang Subasiti dikembangkan dari cengkok tembang macapat Dhandhanggula Subasiti.

c)  Ladrang Asmaradana dikembangkan dari cengkok tembang macapat Asmaradana (tanpa judul).

3. Menjadi lagu palaran.

Palaran (untuk Surakarta) dan Rambangan (untuk Yogyakarta) adalah salah satu bentuk sajian dalam karawitan Jawa yang berupa  sajian vokal tunggal (baik pria maupun wanita) yang diambil dari tembang macapat sebagai unsur yang terpenting, dibarengi sajian  instrumen tertentu, seperti kendhang, gender barung, gender penerus, gambang, siter, suling, kethuk, kenong, kempul, dan gong dengan menggunakan bentuk gending seperti srepegan.  Pembentukan lagu vokal palaran tidak banyak berbeda dengan pembentukan lagu sindhènan pada gending bentuk ketawang dan ladrang seperti yang telah disebut di depan, yaitu berdasarkan alur lagu dan nada-nada sèlèh, baik nada  sèlèh di tengah maupun nada  sèlèh pada setiap akhir baris tembang macapat. Pengembangannya berupa penambahan wilêtan, luk dan grêgêl terutama ketika  menjelang nada-nada sèlèh, baik di tengah maupun menjelang sèlèh gong pada akhir baris.  Terlepas dari rasa penak dan tidak penak, pada dasarnya semua cengkok tembang macapat dapat disajikan sebagai lagu palaran.  Terdapat beberapa cengkok tembang macapat yang sering disajikan (adak-an) sebagai lagu palaran, antara lain: Pangkur Paripurna, Dhandhanggula Buminatan, Sinom Wenikenya, Durma Suragreget, Kinanthi Sastradiwangsa, Gambuh Kentar, dan Pucung (tanpa judul).

4. Menjadi bawa gending.

Kata bawa mempunyai beberapa pengertian, salah satunya adalah  ‘mulai’ atau ‘memulai’.  Sementara istilah bawa swara adalah tembang yang digunakan untuk mengawali sajian gending (têmbang kang kanggo miwiti/mbukani gêndhing).[20] Martapangrawit  mengartikan bawa sebagai pengganti buka yang diambil dari salah satu sêkar, baik sêkar agêng, sêkar têngahan, maupan sêkar macapat.[21] Pengertian yang hampir sama juga dikemukakan oleh beberapa tokoh seniman karawitan, seperti Sudarsono Wignya Saputra, Sastro Tugiyo, dan Suharta yang menyebutkan, bahwa bawa adalah buka gending yang dilakukan oleh seorang vokalis dengan menyajikan salah satu dari sêkar agêng, sêkar têngahan, maupan sêkar macapat dengan lagu tertentu.[22] Terdapat beberapa cengkok tembang macapat yang sering disajikan sebagai bawa gending, antara lain: Dhandhanggula Padhasih, digunakan untuk bawa gending Gambirsawit laras slendro pathet sanga, dan  Pangkur Paripurna, digunakan untuk bawa lagon Caping Gunung laras slendro pathet sanga.

5. Menjadi gending Larasmadya.

Larasmadya adalah insambel musik  yang terdiri dari unsur vokal dan instrumen, dimana unsur vokal lebih dominan dari pada instumennya.  Lagu vokalnya berirama metris seperti gérongan dalam karawitan Jawa, diambil dari tembang macapat, sedangkan instrumennya terdiri dari satu buah kendhang ciblon, tiga buah trebang dengan ukuran yang berbeda, serta dua buah kemanak. Perkembangan selanjutnya ada yang menambah ricikan atau instrumen  gendèr barung.  Penyajiannya selalu diawali dengan bawa yang diambil dari salah satu  sêkar agêng atau sêkar têngahan. Terdapat  beberapa cengkok tembang macapat yang digarap menjadi gending larasmadya, antara lain: Pangkur Paripurna laras pelog pathet barang; Gambuh Gejung laras pelog pathet nem; Dandhanggula Subasiti laras slendro pathet sanga;  Mijil Larasati laras slendro pathet sanga; dan Pucung laras slendro pathet manyura.

6. Menjadi gending sekar atau garap kethoprak.

Cengkok tembang macapat yang digarap menjadi gending sekar biasanya digunakan dalam adegan kethoprak sebagai pengganti disalog.  Penyajiannya menggunakan kendhang ciblon atau kendhang kalih berbentuk ketawang.  Cengkok tembang macapat yang digarap kethoprak-an ini antara lain: Sinom Parijatha, Pangkur Paripurna, Asmaradana (tanpa judul), Mijil Pamular (Kethoprak), dan Pucung (tanpa judul).

Kontribusi Teks-teks Macapat Terhadap Kehidupan Karawitan Jawa

Berbagai macam  sêrat yang ditulis oleh para pujangga atau oleh mereka yang mempunyai keahlian dalam menulis sastra Jawa,   terdapat sejumlah sêrat yang sangat populer dikalangan mayarakat Jawa, terutama di kalangan masyarakat karawitan.  Teks-teks macapat yang terdapat dalam sêrat tersebut banyak digunakan untuk berbagai hal yang berhubungan dengan karawitan, seperti gérongan gending, sindhenan,  bawa, palaran, andhegan gendhing, sekar waosan, dan sebagainya.  Teks-teks yang  digunakan dalam karawitan jawa biasanya  diambil dari Sêrat Wulangrèh, Sêrat Wedhatama, Sêrat Tripama, dan Sêrat Rama.

Sêrat Wulangrèh dicipta oleh Paku Buana IV, raja Surakarta Hadiningrat yang semasa pemerintahannya banyak menghasilkan karya sastra jawa. Pujangga yang sangat terkenal pada masa itu adalah Yasadipura I yang kemudian diteruskan oleh Yasadipura II.  Sêrat Wulangrèh memuat 13 (tigabelas) jenis (pupuh) tembang macapat, yaitu Dhandhanggula, Kinanthi, Gambuh, Pankur, Maskumambang, Megatruh, Durma, Wirangrong, Pucung, Mijil, Asmarandana, Sinom, dan Girisa.   Dari 13 jenis tembang macapat tersebut, terdapat 4 (empat) jenis macapat yang banyak digunakan untuk keperluan karawitan, yaitu:  Dhandhanggula, Gambuh, Pangkur, dan Mijil.  Di bawah ini contoh-contoh  teks macapat pada bait (pada) pertama dari masing-masing jenis macapat yang terkandung dalam Sêrat Wulangrèh yang banyak digunakan untuk teks gerongan, sindhenan, maupun palaran.

a) Dhandhanggula.

Pamêdaré wasitaning ati

cumanthaka aniru pujangga

dhahat mudha ing batiné

nanging kêdah ginunggung

datan wruh yèn akèh ngèsêmi

amêksa angrumpaka

basa kang kalantur

tutur kang katula-tula

tinalatèn rinuruh kalawan ririh

mrih padhanging sasama

b) Gambuh.

Sêkar gambuh ping catur

kang cinatur polah kang kalantur

tanpa tutur katula-tula katali

kadaluwarsa katutuh

kapatuhpan dadi awon

c) Pangkur.

Kang sêkar pangkur winarna

lelabuhan kang kanggo wong ngaurip

ala lan bêcik puniku

prayoga kawruhana

adat waton puniku dipun kadulu

miwah ta ing tata krama

dèn kaèsthi siyang ratri

d) Mijil

Poma kaki padha dipun éling

ing pituturingong

sira uga satriya arané

kudu antêng jatmika ing budi

ruruh sarwa wasis

samubarangipun

Selain  Sêrat Wulangrèh, teks-teks macapat yang sering digunakan dalam karawitan jawa juga diambil dari Sêrat Wédhatama karya K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV.    Sêrat Wédhatama terdiri  dari 4 (empat) pupuh atau jenis  macapat, yaitu  Pangkur, Sinom,  Pucung, dan Kinanthi.  Namun demikian yang banyak digunakan untuk keperluan karawitan hanya 3 (tiga) jenis macapat, yaitu: Pangkur, Sinom, dan Pucung.  Di bawah ini contoh-contoh  teks macapat pada bait (pada) pertama dari masing-masing jenis macapat yang terkandung dalam Sêrat Wédhatama   yang banyak digunakan untuk teks gerongan, sindhenan, maupun palaran.

a) Pangkur.

Mingkar-mingkuring angkara

akarana karênan mardi siwi

sinawung rêsmining kidung

sinuba sinukarta

mrih krêtarta pakartining ngèlmu luhung

kang tumrap nèng tanah Jawa

agama agêming aji

b) Sinom.

Nulada laku utama

tumraping wong tanah Jawi

Wong Agung ing Ngèksiganda

Panêmbahan Sénapati

kêpati amarsudi

sudaning hawa lan nafsu

pinêsu tapa brata

tanapi ing siyang ratri

amamangun karyènak tyasing sasama

c) Pucung.

Ngèlmu iku, kalakoné kanthi laku

lêkasé lawan kas

tegêsé kas nyantosani

sêtya budya pangêkêsé dur angkara

Karya K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV yang juga banyak digunakan dalam karawitan jawa adalah Sêrat Tripama.  Dalam Sêrat Tripama hanya menggunakan satu jenis tembang macapat, yaitu Dhandhanggula. Adapun bait pertama dari teks macapat Dhandhanggula tersebut  adalah  seperti di bawah ini.

Yogyanira kang para prajurit

lamun bisa samya anulada

duk ing nguni caritané

andêlira sang Prabu

Sasrabau ing Maèspati

aran Patih Suwanda

lêlabuhanipun

kang ginêlung tri prakara

guna kaya puruné kang dèn antêpi

nuhoni trah utama

Teks macapat yang  terkandung dalam Sêrat Rama juga banyak digunakan untuk keperluan karawitan,   terutama macapat Kinanthi. Bait pertama dari teks macapat Kinanthi tersebut adalah sebagai berikut:

Nalikanira ing dalu

Wong Agung mangsah sêmèdi

sirêp kang bala wanara

sadaya wus sami guling

nadyan ari sudarsana

wus dangu nggènira guling

Berbagai teks macapat yang terkandung dalam Sêrat Wulangrèh, Sêrat Wedhatama, Sêrat Tripama, dan Sêrat Rama seperti yang telah disebutkan di atas sangat besar kontribusinya dalam kehidupan karawitan jawa.   Sebagian besar gending rebab bentuk ladrang dan inggah gending kethuk 4 (terutama yang digarap ciblon irama wiled) selalu menggunakan gerongan dengan cakepan yang diambil dari teks-teks macapat, terutama macapat Kinanthi.  Gending-gending yang dibentuk  dari tembang macapat otomatis menggunakan gerongan atau sindhenan sesuai dengan  tembang induknya.   Selain gending bentuk ladrang dan inggah, terdapat beberapa gending bentuk merong kethuk 2 kerep yang juga menggunakan gerongan atau sindhenan dengan cakepan yang diambil dari macapat Kinanthi, seperti merong gending Onang-onang, Kembang-gayam, Genjong-guling, Lobong, dan sebagainya. Terdapat gending bentuk merong kethuk 2 kerep yang  gerongan-nya tidak menggunakan teks macapat Kinanthi, yaitu merong gending Gambirsawit. Gending Gambirsawit ini pada bagian merong menggunakan cakepan yang diambil dari macapat Asmaradana,  bahkan kadang-kadang menggunakan cakepan yang diambil dari macapat Sinom, sedangkan pada bagian inggah yang digarap irama wilet menggunakan cakepan yang diambil dari macapat Kinanthi.   Dengan demikian teks-teks macapat Kinanthi adalah teks macapat yang paling banyak digunakan dalam penyajian karawitan.  Oleh sebab itu teks-teks macapat Kinanthi yang digunakan dalam karawitan  tidak hanya diambil dari Serat Rama saja, tetapi juga diambil dari serat lain, seperti Serat Manuhara.

Ketika tembang macapat sudah menjilma menjadi berbagai bentuk garapan gending, terdapat beberapa  gending atau garapan lainnya yang menjadi pupuler di kalangan masyarakat karawitan.   Gending-gending tesebuat di antaranya adalah Ladrang Pangkur Paripurna, Ladrang Subasiti/Maskentar (Dhandhanggula), Ladrang Asmaradana, Ketawang Sinom Parijhata,  Ketawang Pangkur Ngrenas, Ketawang Kinanthi Sandung, dan sebagainya.   Gendhing-gendhing ini banyak disajikan dalam acara-acara klenengan maupun untuk  keperluan iringan, baik tari maupun wayang.  Selain itu, dalam acara-acara klenengan mirunggan salulu disajikan palaran yang biasanya merupakan rangkaian garap dari sajian gending sebelumnya.  Dalam garapan yang demikian,  tiga hingga lima  lagu palaran ditampilkan dalam acara senacam ini.  Lagu palaran yang disajikan biasanya dipilih lagu palaran yang sudah populer dikalangan para pengrawit, diantaranya  Palaran Pangkur (Paripurna), Sinom, Dhandhanggula, Durma, dan biasanya diakhiri dengan Palaran Pucung.

Penutup

Dinamika yang berkembang  dalam karawitan pada saat ini,  tembang macapat  tidak hanya difungsikan sebagai  sêkar waosan.  Ia mendapat sentuhan garap dari para seniman untuk dikembangkan menjadi bentuk garapan yang lain.  Dengan daya kreativitas para seniman, akhirnya beberapa céngkok tembang macapat   menjadi populer di masyarakat ketika telah mengalami perkembangan musikal dalam wujud gending.  Secara musikal  tembang macapat telah dikembangkan menjadi   berbagai ragam bentuk gending, seperti bentuk ketawang, ladrang, palaran, bawa gending, dan gending larasmadya.

Perkembangan garap musikal terus berlanjut ketika   tembang macapat yang sudah menjilma menjadi bentuk gending tersebut disajikan dengan menggunakan perangkat gamelan  sléndro dan pélog. Masuknya lagu vokal yang berbentuk gérongan atau sindhenan yang diambil dari teks-teks macapat semakain memperkaya perbendaharaan garap di bidang vokal dalam karawitan jawa.  Berbagai sajian gending karawitan jawa  yang mengunakan cakepan, baik gerongan maupun sindhenan yang diambil dari teks-teks macapat yang terkandung dalam berbagai  Serat menunjukkan, bahwa teks-teks macapat  sangat  besar kontribusinya terhasdap perkembangan dan kehidupan karawitan jawa.

DAFTAR PUSTAKA

Darsono, Dkk. ”Perkembangan Musikal Sekar Macapat di Surakarta”. Laporan Penelitian STSI Surakarta, 1995.

Evans, James R. Berfikir Kreatif. Jakarta: Bumi Aksara, 1994.

Madukusumo, KRT.  Himpunan Tembang Mataram .  Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 1980.

Padmosoekotjo, S.  Ngengkrengan Kasusastran Jawa, Djilid I. Yogyakarta: Hien Hoo Sing, 1958.

Perlman, Marc. “Sekelumit  Contoh   Perubahan   Musikal Dalam Sejarah Karawitan”. Makalah Seminar Etnomusikologi di Medan,         1987

Prawiroatmodjo.  Bausastra Jawa-IndonesiaJilid II. Jakarta: Cv. Haji Masagung, 1989

Rahayu Supanggah. “Pokok-pokok  Pikiran  Tentang  Garap”.  Makalah  disampaikan  dalam diskusi jurusan Karawitan ASKI Surakarta,1983.

Ranggawarsita, R. Ng.  Mardawalagu. Surakarta: Sadu Budi, 1957.

Saputra, Karsono H.  Sekar Macapat. Jakarta Wedatama Widya Sastra, 2001.

Sri Hastjaryo, Gumawan.  ”Macapat I-II-III”.  ASKI: Surakarta, tt.

Supanggah, Rahayu. “Pokok-pokok  Pikiran  Tentang  Garap”.  Makalah  disampaikan  dalam diskusi jurusan Karawitan ASKI Surakarta,1983.

——————    ”Balungan”, dalam Jurnal Masyarakat Musikologi Indonesia Tahun I Vol. 1, 1990.

——————  Bothekan Karawitan I. Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2002.

Suparno, Slamet.  ”Pemunculan dan Pengembangan Karawitan Mangkunegaran: Kronologi Peristiwa Karawitan di MangkunegaranTh. 1757-1881”. Yogyakarta: Fakultas Pascasarjana UGM, 1990.

Supriadi, Dedi. Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan Iptek. Bandung : Alfabeta, 1994.

Suyoto.  ”Sindhenan Gendhing-gendhing Sekar Versi Sastrotugiyo”.  Laporan Penelitian STSI Surakarta, 1992.

Waridi. Garap Dalam Karawitan Tradisi: Konsep dan Realitas Praktik”. Makalah Seminar Karawitan STSI Surakarta, 1999.

Karawitan Jawa Masa Pemerintahan PB X: Perspektif Historis dan Teoritis.  Surakarta: STSI Press, 2006.

BIODATA

Sugimin

Lahir di Klaten 17 Agustus 1954.  Setelah lulus SMEA tahun 1973 sempat menganggur selama 6 tahun.  Baru tahun 1989 kuliah di ASKI Surakarta Jurusan Karawitan, lulus S-1 pada tahun 1984.  Lulus S-2 Bidang Kajian Musik  Program Pascasarjana STSI Surakarta pada tahun 2005.   Tahun 1984 diangkat menjadi dosen  di Jurusan Karawitan STSI Surakarta.  Pernah mengikuti berbagai pergelaran karawitan dalam misi-misi kesenian ke luar negeri, di antaranya: Perancis (1982 dan 2005), Belgia dan Italia (1982), Amerika dan Kanada (1991), Jepang (1994 dan 1996), India (2004), Jerman  (2005), dan Malaysia (2008). Pengalaman menulis antara lain: “Kendhangan Karawitan Yogyakarta Versi Bapak Projosudirjo (1991); Kesenian Slawatan di Desa Tibayan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten: Kehidupan dan Musikalitasnya (1999); Tinjauan Kehidupan Kesenian Tradisional di Kecamatan Srumbung (2000), Pangkur Paripurna: Perkembangan Garap Musikal (2005); Gending Soran dalam Karawitan Gaya Yogyakarta (2007), dan beberapa penelitian kelompok.   Menyusun beberapa karya karawitan antara lain: “LER-LERAN” (1999); “NGELIK” (2000);   ”JI-Pi-Ji” (2009), dan beberapa karawitan tari.


[1] Karsono H. Saputra, 2001 : 6.

[2] Di kalangan pengrawit jawa terdapat dua pengertian gatra. Pertama, gatra yang digunakan dalam macapat yang berarti baris atau larik; Kedua, gatra yang digunakan dalam gending karawitan Jawa yang berarti satuan terkecil dalam gending Jawa yang tediri dari empat sabetan balungan gending.

[3] Sekar waosan adalah tembang macapat yang digunakan sebagai bahan bacaan.  Sekar waosan ini biasanya  disajikan  pada acara-acara malam tirakatan atau lèk-lèkan seperti selapanan bayi, khitanan dan sebagainya.  Namun demikian, pada saat ini komunitas semacam ini sudah sangat sulit dijumpai.

[4] Ranggawarsita, 1957 : 15.

[5] Karsono H. Saputra, 2001: 92.

[6] Gunawan Sri Hastjarjo dan sebagian besar guru tembang di Surakarta menggunakan istilah pernafasan untuk menyebut  jeda atau berhenti sejenak untuk mengambil nafas pada saat  menyajikan tembang  macapat, sedangkan Padmosoekatjo dan Karsono H. Saputra   menggunakan istilah pêdhotan.

[7] K.R.T. Madukusumo, 1980 : 3.

[8] Macapat yang berkembang di Jawa menggunakan bahasa Jawa baru, yaitu  bahasa yang dipergunakan oleh orang Jawa pada masa kini, baik bahasa ngoko, krama, krama inggil, dan atau gabungan dari ketiganya.  Hal ini untuk menegaskan bahwa sebelumnya terdapat bahasa kawi atau Jawa kuno  yang digunakan untuk penulisan sastra Jawa yang berbentuk kêkawin.

[9] Endang Siti Saparinah,  2001: 56-57.

[10] Amir Rochkyanto,  2001 : 265-268.

[11] Surasa Daladi, wawancara tanggal 3 Mei 2005.

[12] Gunawan Sri Hastjarjo,  1982 : 4.

[13] Darsono, wawancara tanggal 25 Mei 2005.

[14] Padmosoekotjo, 1958 : 25.

[15] Padmosoekotjo, 1960 :  32.

[16] Sumarsam,  2003 : 344.

[17] Rahayu Supanggah,  1983 :  7.

[18] Gunawan Sri Hastjarjo, “Macapat” Jilid I, II, III  (Surakarta, tt).

[19] Martapangrawit, op. cit. I, 1975 : 8.

[20] S. Prawiroatmodjo, Bausasta Jawa, (Surabaya, 1994), 31.

[21] Martopangrawit, “Tetembangan” (Surakarta, 1967), 1.

[22] Suyoto, “Bawa Kaitannya Dengan Gending”, (Jurnal Kêtêg Volume 3, No. 1, Surakarta: STSI, 2003), 42.

Comments off

dosen jurkar isi

Hello world!

1 comment

Welcome to Berpacu dlm Kreatifitas dan Prestasi. Ini adalah halaman pertama posting. Revisi atau hapus halaman ini, kemudian silahkan ngeblog dan saatnya ISI Surakarta mendunia lewat dunia maya….

UPT. Pusat Informatika (PUSTIKA) ISI Surakarta